»
S
I
D
E
B
A
R
«
Kompromi Dalam Rumahtangga
June 24th, 2006 by

couple.jpg

Jangan mengira semua orang akan memiliki persepsi yang sama dalam mengartikan kata kompromi, meski sudah terikat dalam tali pernikahan sekali pun. Dra Clara Istiwadarum Kriswanto, MA mengatakan jangan kaget bila kemudian terjadi salah paham, karena baik istri maupun suami memiliki persepsi yang berbeda mengenai kata kompromi.

Dalam pikiran suami, kompromi mungkin adalah istri harus pasrah, mau menurut dan tidak boleh mengeluh dengan semua tindakannya. Maka yang terjadi kemudian, suami merasa berkuasa dan bebas melakukan apa yang menurutnya benar. Ketika istri protes karena merasa tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan meski untuk hal kecil, membeli mainan misalnya, suami dengan cueknya berkata bahwa ia bebas menggunakan karena itu uang hasil keringatnya sendiri.

Sementara si istri berpikir bahwa suami harus kompromi dalam setiap tindakan yang menyangkut keuangan. Lepas apakah itu uang ‘miliknya’ atau bukan. Kompromi dalam persepsi istri adalah kebersamaan, segala sesuatunya dibicarakan berdua. Apalagi kalau sudah menyangkut keuangan atau bahkan pendidikan anak. 

Maka, dalam rumahtangga dibutuhkan komunikasi yang terbuka. Seorang laki-laki yang lebih mirip ‘diktator’ atau mau menang sendiri dengan tindakan-tindakan tanpa kompromi, asal dirinya senang, biasanya terkait pengasuhan saat kecil. “Sehingga setelah menikah pun dia telah terpola menentukan sendiri apa yang ia mau. Dan mengesampingkan kompromi,” tambah psikolog dari Jagadnita ini.

Tapi menurut Clara, ada juga tipe suami yang memang tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkan pikirannya, kemudian mengajak dan memulai kompromi dengan istrinya. Sehingga daripada ‘kelamaan’ mesti mencari cara untuk berdiskusi, langsung saja ia memutuskannya sendiri.

Sifat istri yang tidak mau berterus terang tentang apa yang diinginkannya dan apa yang tidak diinginkannya, juga bisa menjadi alasan suami mengambil keputusan sendiri. Sementara itu, sang suami juga tidak peka melihat situasi. Maka yang paling baik adalah komunikasi terbuka antara keduanya.

Sikap suami yang suka memutuskan sendiri, memang tidak bisa selalu dibilang negatif. Sesungguhnya kasus seperti ini sangat individual. Ada juga seorang istri yang berprinsip, ‘ah, biarlah suami beli apa yang diinginkannya tanpa kompromi, yang penting semua kebutuhan rumah tangga terpenuhi.’ Ia tidak terlalu pusing apakah suaminya akan kompromi dulu atau tidak.

Suami istri adalah mitra dalam rumah tangga. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk hal tertentu. Kompromi diperlukan dalam melanggengkan suatu hubungan. Meski dalam kompromi mungkin pendapat salah satu akan terkalahkan, tapi paling tidak keduanya telah membuahkan suatu kesepakatan. Jika nanti terjadi sesuatu di luar keinginan, maka tidak ada saling menyalahkan. (yz).


Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

»  Income freely from: Thabit Fattah Hakmani Inc.   »  Download MP3 and Video: Best Indonesia