Plis Deh So Gaul So Keren: Let Hang Out Begaul Dewasa Aman

Website Kampus tidak Populer?

Google
 

Writing by on Thursday, 22 of June , 2006 at 10:18 am

"Random Healthcare Tutorial from Wikipedia"

handsome.jpg 

Seberapa sering Kawan Kampus membuka website kampus? Boleh jadi, situs-situs yang lain lebih menarik dan lebih sering ditengok, dibandingkan website kampus sendiri. Memang, website kampus kerap diterpa kritik karena tampilan dan isinya yang “gitu-gitu aja”. Walhasil, kehadirannya pun menjadi kurang populer di kalangan mahasiswa ataupun warga kampus lainnya.

“AH…, website kampus mah isinya gitu-gitu aja,” kata Okky, mahasiswa Sastra Jerman Unpad, secara spontan saat ditanya pendapatnya mengenai website kampus. Menurut dia, dari segi updating, website kampus masih belum optimal. Padahal, ia mengharapkan bisa dapat banyak informasi tentang hal-hal terbaru di kampusnya. Hal itu pun membuat Okky jarang melihat website kampusnya sendiri.

Yang dirasakan Okky, mungkin juga dialami Kawan Kampus lainnya. Hal ini bukan berita baru. Tak hanya di bidang pendidikan, bidang ekonomi pun didapatkan hal serupa. Alih-alih keberadaan website bisa membantu menarik minat investor dalam dan luar negeri, kondisi yang ada malah kerap under construction. Wapres Jusuf Kalla pun mengkritik situs-situs pemerintah yang sering kali informasinya tidak aktual.

Berbicara aktualitas, mari kita melihat-lihat kondisi website kampus. Website Unisba (www.unisba.ac.id) misalnya. Yang cukup mencolok di sana adalah keberadaan agenda. Meski saat ini sudah menginjak Mei, ternyata di tampilan paling depan website tersebut masih tercantum jadwal kegiatan Januari dan Februari. Padahal, Kampus meyakini bahwa ada banyak kegiatan, baik yang sudah maupun akan digelar, yang tidak dircantumkan di sana.

Sistem keredaksian

Website tak ubahnya sebuah wajah di dunia maya. Untuk kepentingan bisnis, keberadaan website merupakan salah satu langkah strategis mengembangkan usaha. Bayangkan, kalau setiap pihak mempunyai website. Butuh apa pun mungkin tinggal browsing di internet. Di dunia pendidikan, unsur teknologi informasi (TI), yang di dalamnya juga termasuk website kampus, sudah menjadi salah satu syarat akreditasi perguruan tinggi.

Fungsi website kampus, setidaknya terbagi menjadi 2 bagian. Untuk ke arah luar, website amat baik sebagai sarana publikasi. Misalnya, untuk mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar kota atau luar negeri. Informasi awal dari mulai alamat, kondisi kampus, jurusan yang ada, biaya, sampai formulir online, bisa didapatkan tanpa harus mendatangi tempatnya. Apalagi di musim penerimaan mahasiswa baru seperti saat ini, website dipakai sebagai media pengumuman nama-nama mahasiswa yang lulus seleksi.

Untuk ke dalam, website dapat digunakan sebagai pendukung sarana belajar-mengajar. Selain memuat informasi tentang mata kuliah tertentu, website juga dapat digunakan sebagai media komunikasi antara dosen dan mahasiswa. Perpustakaan digital pun merupakan salah satu layanan memberi manfaat, baik bagi civitas academica kampus tersebut maupun masyarakat pada umumnya.

Website kampus tergolong memadai, jika memberikan informasi yang lengkap dan updating yang rutin. Kampus melihat, sebenarnya berbagai website kampus yang ada sudah cukup informatif. Dari mulai berita singkat, agenda kegiatan, profil kampus, fakultas yang tersedia, dsb., sudah tersedia di sana. Namun dari segi updating, kerap belum terpenuhi. Justru faktor updating inilah yang sering jadi penentu sebuah website akan dikunjungi kembali atau tidak. Kalau isinya cenderung basi, untuk apa?

Lalu, seperti apa website kampus-kampus di luar negeri? Kalau melihat website University of California Berkeley (www.berkeley.edu), Massachusetts Institute of Technology (www.mit.edu), dan Harvard University (www.harvard.edu), ketiganya berturut-turut meraih peringkat atas untuk kategori world rank versi Webometrics Ranking of World Universities (http://www.webometrics.info/), kurang-lebih bercirikan simpel. Seperti situs Google yang tidak terlalu mementingkan desain, namun lebih mengutamakan kecepatan dan kumpulan data, begitu juga dengan 3 website tersebut yang sepertinya lebih mengutamakan informasi.

Kriteria website kampus yang baik versi Webometrics adalah open access, yang berarti seberapa bebas akses ke berbagai hasil penelitian. Untuk Top 100 Asian 2006, Tokyo University (www.u-tokyo.ac.jp) menempati urutan pertama, sekaligus ke-87 untuk tingkat dunia. Dan ternyata ada juga universitas di Indonesia yang berada di Top 100 Asian 2006, yang diwakili oleh ITB (www.itb.ac.id) di peringkat 49. Selain itu, website ITB juga pernah meraih juara pertama Situs Web Perguruan Tinggi Terbaik Dikti 2005, dan juara kedua Lomba Situs Web Perguruan Tinggi Kominfo RI 2003.

Berbicara pengumpulan informasi, Arif Firmansyah, Koordinator Harian Center for Comunication and Information Technology (UP CCIT) Unpad mengatakan, sejauh ini seringnya menunggu suplai dari humas, baru kemudian ditampilkan di website Unpad (www.unpad.ac.id). “Dulu kita pernah dibantu dua mahasiswa sebagai reporter. Tapi sekarang tidak lagi. Salah satu penyebabnya adalah mereka suka bentrok sama kuliah,” kata Arif.

Dalam hal ini, format yang paling tepat dalam pengembangan website Unpad masih terus dicari. Beberapa rencana antara lain, koordinasi antardepartemen yang lebih terarah, pengadaan siakad (sistem akademik), akses pada karya tulis mahasiswa dan dosen, sampai pada sistem keredaksian. “Harus melibatkan mahasiswa juga, biar tidak terjadi kesenjangan informasi,” kata Arif.

Lain lagi cerita dari Saifuddinul Haq, yang biasa dipanggil Ifu, webmaster Itenas (www.itenas.ac.id). Jika biasanya pengembang website kampus terdiri dari minimal 3 orang, maka Ifu hanya sendirian. Praktis, masalah kekurangan SDM ini berdampak pada website yang dikelolanya. “Belum ada koordinasi yang tepat dalam pendistribusian informasi, jadi sering mengalami kelangkaan informasi baru untuk ditampilkan,” kata Ifu.

Cerita semacam itu, mungkin bisa diselesaikan dengan memberdayakan mahasiswa. Keterlibatan mahasiswa dalam pengembangan website kampus sebagai reporter pun dilakukan ITB. Ada 6 mahasiswa yang tergabung di sana. “Memang ada juga keinginan membangun semacam cyber journalism,” kata Basuki Suhardiman, Ketua Unit Sumber Daya Informasi (USDI) ITB.

Basuki mengungkapkan bahwa pembenahan ke arah yang lebih baik terus dilakukan, termasuk dari segi keamanan. Sebagai sebuah website besar dengan banyak anggota (anggota forum sebanyak 6 ribu-an), tentu risiko selalu ada. “Website itu seperti rumah. Kan bisa ada debu atau kotoran, makanya kita harus memelihara rumah dengan baik. Sama halnya dengan security di website. Pernah juga ada yang mencoba nge-hack, tapi masih bisa kita handle,” kata Basuki.

USDI ITB juga sedang menggiatkan pembuatan website sendiri di tingkat kelompok keahlian (KK) –kelompok kerja penelitan– ITB yang jumlahnya 90-an. Selain itu, program lainnya adalah menambah lagi content dalam bahasa Inggris. “Kan banyak mahasiswa asing yang ingin ikut buka website kampus,” kata Basuki.

Kalau soal dana, Ifu menuturkan bahwa dirinya memahami jika pendanaan untuk website masih jauh dari kebutuhan. “Saya memaklumi karena dunia pengembangan website masih sesuatu yang baru, sehingga banyak pihak di Indonesia masih kesulitan memperhitungkan berapa biaya pengembangan website yang sesungguhnya,” kata Ifu, yang tengah mempersiapkan peluncuran website Itenas baru.

Sentuhan emosional

Membangun sistem keredaksian merupakan salah satu upaya pendekatan pada mahasiswa dan memudahkan pengamatan perkembangan kampus. Pendokumentasian kegiatan pun kemungkinan besar bisa lebih lancar. Bukan tidak mungkin, hasil akhirnya website kampus jadi populer dan sering dikunjungi banyak orang.

“Yang pasti, sekarang mah masih lebih tenar friendster dibanding website kampus,” kata Basuki sambil tertawa. Basuki mengaku salut dengan friendster yang bisa membuat banyak orang tertarik. “Kuncinya, harus ada sentuhan emosional. Seperti kolom testimonial di friendster itu,” kata Basuki lagi.

Formula yang mirip sebenarnya bisa diterapkan di website kampus. Misalnya, adanya fasilitas mendaftar online, melihat nilai secara online, forum diskusi, fasilitas e-mail, bahkan menyediakan blog untuk setiap mahasiswa. ”Saya juga ingin bisa menampilkan SMS secara langsung di homepage,” kata Basuki.

Lebih dari itu, partisipasi aktif sangat dibutuhkan untuk melengkapi content website kampus. “Untuk sosialisasi keberadaan website ini, memang tugas kita. Tapi untuk mahasiswanya juga aktif dong. Mahasiswa juga kadang suka tidak memberi tahu kalau punya kegiatan,” kata Arif.***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Leave a comment

Category: Remaja ABG

No Comments

No comments yet.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Random Life Quotes

Plis Deh So Gaul So Keren community usually refers to a group of people who interact and share certain things as a group. Our articles focuses on human communities, in which intent, belief, resources, preferences, needs, risks and a number of other conditions may be present and common.