Plis Deh So Gaul So Keren: Let Hang Out Begaul Dewasa Aman

Stres, Bunuh Diri? Jangan Ah!

Google
 

Writing by on Thursday, 22 of June , 2006 at 10:08 am

"Random Healthcare Tutorial from Wikipedia"

chefil006mb5.jpg

SEORANG berinisial JS, mahasiswa semester IV sebuah PTS di Bandung, ditemukan tewas bunuh diri di kamar kosnya di bilangan Sekeloa, Kota Bandung, Kamis (15/6). Hal itu diduga terjadi karena korban stres menghadapi kuliahnya (“GM”, 16/6/2006). Belum jelas benar stres seperti apa yang dialami JS. Namun, hal ini seakan menyadarkan kita semua, bahwa anak muda atau mahasiswa pun rentan terhadap stres.

RUPANYA, stres bukan hanya monopoli orang dewasa. Remaja atau anak muda pun bisa terkena hal serupa. Sementara banyak orang yang tipenya cuek dan santai, namun tak sedikit pula yang tipenya mudah drop jika tertimpa masalah. Tapi, kalau sampai bunuh diri? Waduh!

Omong-omong bunuh diri, Jepang termasuk negara yang paling tinggi jumlah bunuh dirinya. Tahun 2005, mencapai 32.552 orang, yang menurut data polisi, angka ini hampir lima kali lipat dibandingkan korban kecelakaan lalu lintas (“PR”, 19/6/2006). Beberapa kali dikabarkan, karena tidak naik kelas atau putus cinta, seorang anak muda Jepang bisa melakukan bunuh diri. Negara maju ini memang dikenal memiliki ritme hidup dan mobilitas yang cukup tinggi, yang mungkin berdampak pada lebih banyaknya tekanan dalam hidup.

Stres dalam hidup boleh saja, tapi kalau sampai depresi dan bunuh diri, jangan dong ah! Karena sebenarnya stres dapat diatasi dengan mengenali penyebabnya. Agar tidak sampai menimbulkan gangguan fisik yang bisa mengganggu, segera atasi stres begitu Kawan Kampus merasakannya!

Misalnya, Kawan Kampus sering merasa stres karena tugas yang banyak namun tenggat waktu terbatas. Jalan keluarnya bisa dengan mengatur waktu. Jangan membiasakan menunda mengerjakan tugas, karena ketika menjadi bertumpuk, stres pun bisa datang. Contoh lain, Kawan Kampus sering merasa stres karena kemacetan. Maka, cobalah mengatur waktu dengan berangkat lebih awal atau mencari jalan alternatif.

Cara yang juga oke adalah dengan berolahraga. Olahraga tidak hanya baik untuk tubuh, tapi juga untuk pikiran. Aktivitas fisik membuat tubuh melepaskan hormon endorfin yang bisa membuat merasa tenang dan nyaman. Selain olahraga, menghabiskan waktu dengan teman-teman juga menyenangkan. Nonton, jalan-jalan ke mal atau makan di restoran bersama bisa membuat lebih santai sehingga stres terkendali.Kawan Kampus juga bisa menekuni hobi, yang mungkin kemarin-kemarin tidak sengaja terpinggirkan karena berbagai hal. Melakukan sesuatu berkaitan dengan hobi, bisa membuat seseorang merasa tenang dan senang. Tak lupa, selalu berpikir dan berperilaku positif serta melakukan pendekatan spiritual dan agama adalah juga cara yang bisa dilakukan.juga bisa menekuni hobi, yang mungkin kemarin-kemarin tidak sengaja terpinggirkan karena berbagai hal. Melakukan sesuatu berkaitan dengan hobi, bisa membuat seseorang merasa tenang dan senang. Tak lupa, selalu berpikir dan berperilaku positif serta melakukan pendekatan spiritual dan agama adalah juga cara yang bisa dilakukan.Dosen Fakultas Psikologi Unpad, Hari Setyo Wibowo, mengatakan, orang-orang yang lebih sedikit mengalami stres, biasanya memiliki daya lentur (resilience) yang tinggi (teori daya lentur oleh Edith Henderson). Faktor-faktor tersebut, yaitu “aku punya” (I have), “aku memiliki perspektif positif terhadap diri sendiri” (I can), dan “aku memiliki kekuatan di dalam” (I am).

Faktor “I have” biasanya ditunjukkan dengan seseorang yang memiliki external support, misalnya orangtua atau teman, sebagai tempat untuk berbagi cerita dan meminta tolong. Faktor “I can” ditunjukkan dengan perasaan kalau “saya mampu” atau “saya bisa”. Orang-orang yang percaya diri dan optimis seperti ini, lebih sedikit mengalami stres. Sedangkan faktor “I am” lebih pada kemampuan interpersonal skill, yaitu kemampuan untuk mengeluarkan gagasan atau apapun yang ada di diri kita.

Hari menuturkan, stres sebenarnya ada gunanya juga. Pengelolaan stres dengan baik, justru bisa mendatangkan nilai positif. Misalnya, soal pembuatan target. Jika target itu dianggap beban, maka bisa stres. Tetapi jika target dianggap tantangan, maka hidup jadi lebih menggairahkan. “Stres bisa menjadi motivator untuk meraih prestasi, asal bisa mengelolanya,” katanya.

Jadi, kelolalah stres dengan baik. Kalau merasa stres datang, just take a deep breath. Jangan lupa untuk bercanda atau humor. Pergi berlibur juga asyik. Lebih asyik daripada mengatasi stres dengan cara yang tidak sehat, seperti minum alkohol atau nge-drugs. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Leave a comment

Category: Remaja ABG

No Comments

No comments yet.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Random Life Quotes

Plis Deh So Gaul So Keren community usually refers to a group of people who interact and share certain things as a group. Our articles focuses on human communities, in which intent, belief, resources, preferences, needs, risks and a number of other conditions may be present and common.