
MIMPI menjadi putih atau kuning langsat kini memang semakin mudah diraih. Perempuan semakin mudah mendapatkan produk pemutih kulit, atau lebih tepatnya pencerah kulit. Produk yang ditawarkan mulai dari pengoles wajah berupa krim siang, krim malam, sabun wajah, dan sabun mandi, hingga deodoran. Meningkatnya keinginan perempuan memiliki wajah dan tubuh putih ditandai dengan penjualan produk pemutih di toko obat dan kosmetik yang laris bak kacang goreng.
Pemasok produk kecantikan ke toko-toko kosmetik di Bandung, Roni, sebut saja begitu, mengaku dalam seminggu bisa memasok 40 lusin atau 480 set krim pemutih wajah merek tertentu ke satu toko obat kosmetik saja. “Sebetulnya mereknya bermacam-macam, ada yang buatan luar negeri, ada juga yang buatan dokter Indonesia. Tapi yang sekarang laris, buatan Indonesia,” kata Roni. Penjualan pemutih buatan lokal disertai iming-iming bahwa pemutih itu sudah disesuaikan dengan kulit perempuan Indonesia. Krim-krim pemutih biasanya disertai brosur janji memutihkan dan menghilang flek wajah antara 4 hingga 7 hari. Luar biasa!
Klinik-klinik kecantikan wajah juga merupakan tempat yang diburu perempuan. Beberapa klinik yang berjanji membuat wajah putih mulus tak pernah sepi pengunjung. Mobil-mobil mewah selalu terparkir di halamannya. Masuklah ke dalam, akan tampak antrean perempuan yang akan berkonsultasi dan membeli produk yang juga ditawarkan di tempat tersebut. Jika sudah menyangkut obsesi putih, tak ada kamus mahal.
“Biar mahal asal kulit putih mulus nggak apa-apa sih,” ujar Nina mantap, salah seorang langganan klinik kecantikan terkemuka di Kota Bandung.
Tak mampu cara mahal? Cara murah pun ada. Sebuah rumah di kompleks perumahan yang terletak di Bandung Barat, misalnya, tak pernah sepi kedatangan perempuan yang ingin memuluskan sekaligus memutihkan wajah. Mereka tak perlu antre karena konsultasi bisa dilakukan supercepat. Di rumah itu, seorang laki-laki atau seorang perempuan siap di meja konsultasi, ruang yang tadinya sebuah ruang tamu rumah biasa.
“Kalau ke kliniknya langsung, bisa ratusan ribu. Kalau di sini kan yang buatnya (pembuat krim sebuah klinik terkenal di Bandung), bisa lebih murah,” kata seorang perempuan yang mengaku sudah berlangganan produk tersebut selama dua bulan.
Hampir semua perempuan yang datang ke tempat itu, pulang membawa tiga jenis pemutih yang nyaris sama. Krim siang, krim malam, dan sabun wajah. Yang membedakannya, krim-krim tersebut diberi nomor, bergantung pada proses perawatannya. Untuk satu paket pemutih tersebut mereka mengeluarkan sekira Rp 70.000,00.
Masih mahal juga? Merek tertentu di toko kosmetik menawarkan harga sekira Rp 20.000,00 untuk sebuah paket krim siang dan krim malam.
Sayangnya, pengetahuan mereka terbatas. Banyak perempuan menjadi korban. Pernah melihat perempuan tetap berwajah merah kendati udara sedang mendung? Jika bukan karena sedang malu hati, bisa jadi perempuan itu sedang memakai krim atau sabun yang berefek mengelupaskan kulit ari untuk mendapatkan efek putih pada wajahnya.
“Merah sedikit sih nggak apa-apa deh. Nggak ada efek samping kok,” ujar Narni, bukan nama asli, dengan naif. Padahal “merah sedikit” yang dimaksud Narni, adalah merahnya udang yang direbus! Sedikit saja Narni beraktivitas, seluruh wajahnya merah padam. Pada saat pengobatan ia dilarang pergi ke daerah berudara panas, seperti Jakarta. Jika ingin keluar rumah, wajib membawa payung. Wow, repotnya menjadi putih.
**
TENTU saja aneh jika yang jadi putih adalah wajah saja. Menyadari kebutuhan putih secara keseluruhan, berkembang pula pemutih tubuh. Untuk medapatkan putih pada tubuh, para produsen kecantikan terus mengembangkan temuannya.
Dra. Titin Iwan, produsen obat tradisional di Bandung mengaku menemukan juga khasiat buah merah asal Papua untuk memutihkan kulit tubuh. Ia memproduksinya dalam bentuk sabun mandi. “Sebenarnya tadinya hanya untuk wajah. Tetapi aman juga dipakai ke seluruh tubuh. Saya juga memakainya, bergantian dengan sabun yang terbuat dari virgin coconut oil (VCO). Hasilnya signifikan, memutihkan dan memuluskan wajah dan tubuh sekaligus,” kat Titin. Untuk mendapatkan efek putih, sabun ini tidak bekerja secara instan, butuh waktu agak lama.
Sabun mandi ini juga cepat mendapat tempat di hati perempuan. Harga sebuah sabun dari Titin Rp 5.000,00, bisa dijual lagi oleh pebisnis menjadi Rp 25.000,00. Meskipun di tangan konsumen yang tidak tahu tempat produksinya tersebut menjadi amat mahal, sabun tersebut laku keras. Bahkan, untuk mendapatkannya orang harus memesan terlebih dahulu. Karena sabun tersebut selalu habis diborong oleh sebuah perusahaan multi level marketing berbasis islami di Kota Bandung.
Kulit putih bukan saja menjadi idaman perempuan. Tetapi juga kaum laki-laki. Hanya kaum laki-laki bukan untuk kulitnya sendiri. Banyak kaum Adam mengidamkan hidupnya didampingi seorang perempuan berkulit putih. Tengok saja acara kontak jodoh di sebuah stasiun televisi. Umumnya mereka memaparkan perempuan idamannya berkulit putih. Belum ada yang mensyaratkan, “dia harus berkulit hitam”, walaupun pada akhir acara si laki-laki menyatakan cintanya pada perempuan berkulit tidak putih!
Citra putih memang sudah merajalela, Dr. Henny, Kepala BKOM (Balai Kesehatan Olahraga Masyarakat) Kota Bandung sering geleng-geleng kepala dengan keinginan kaum perempuan untuk cantik yang identik dengan kulit putih ini. “Padahal, Whitney Houstoun hitam, tapi menarik sekali kan dia?” ucap Henny.
**
SAH-SAH saja memang untuk memburu mimpi menjadi cantik dengan kulit cemerlang, namun pakar kesehatan kulit Dr. Retno Iswari Tranggono Sp.K.K. mengingatkan, hendaknya konsumen memerhatikan beberapa hal demi kesehatan kulit. “Pilih kosmetik yang aman, terpercaya, dan yang paling penting itu tepat guna,” katanya saat jumpa pers di Ristra House, belum lama ini.
Persyaratan kosmetik dan perawatan kulit yang aman ada tiga, faktor lingkungan, faktor manusia, dan faktor kosmetik itu sendiri. Artinya, memilih kosmetik hendaknya sesuai dengan keadaan di mana kita tinggal. Kita yang tinggal di negara tropis akan kurang cocok untuk mengenakan kosmetik yang banyak mengandung minyak, yang lebih cocok untuk dipakai di wilayah subtropis seperti Eropa. Kita sebagai pemakai, harus pandai memilih kosmetik sesuai dengan jenis dan kebutuhan kulit. Sama halnya dalam memilih kosmetik pemutih, pilihlah yang aman. “Jangan sampai kulit putih secara instan, namun kelak berefek negatif, misalnya kulit menjadi merah-merah karena teriritasi, atau bahkan kulit seperti terbakar. Kita hendaknya memilih kosmetik yang long life beauty,” kata perempuan yang pernah mendapat penghargaan dalam inovasi kosmetik perawatan kulit ini.
Dokter Maria Margaretha S. dari House of Ristra Bandung mengingatkan, akhir-akhir ini memang marak dipasarkan kosmetik pemutih. Namun dalam memilihnya harus hati-hati, karena masih ada pemutih yang mengandung bahan berbahaya, seperti merkuri dan hidroquinon dalam takaran yang berlebihan.
Pemakaian hidroquinon berlebih dapat menyebabkan kulit iritasi, dan jika dihentikan kulit akan seperti semula, bahkan bisa lebih buruk. Lebih bahaya lagi merkuri. Logam yang sebenarnya sudah dilarang itu memang menjadikan kulit tampak putih mulus, tetapi lama-kelamaan akan mengendap di bawah kulit. Setelah bertahun-tahun kulit akan biru kehitaman, bahkan dapat memicu timbulnya kanker.
Kadar zat pemutih hidroquinon untuk kosmetik hanya diperbolehkan dua persen, lebih dari itu harus diperlakukan sebagai obat.
Krim pemutih merupakan campuran bahan kimia yang bertujuan memucatkan noda hitam (cokelat) pada kulit. Dalam jangka waktu lama krim tersebut dapat menghilangkan atau mengurangi hiperpigmentasi pada kulit. Namun jangan salah, penggunaan yang terus-menerus justru akan menimbulkan pigmentasi dengan efek permanen.
Sayangnya, sekarang banyak konsumen kejeblos, menggunakan pemutih yang bermanfaat instan. “Pemutih tersebut bisa menimbulkan efek rebound, yaitu memberikan respons berlawanan saat pemakaian dihentikan,” kata Maria.
Siapa sih yang tak ingin kulitnya putih dan mulus dalam hitungan minggu? Tapi harap diingat, begitu kosmetik dihentikan kulit menjadi hitam atau dikotori dengan flek-flek, bahkan merah seperti udang rebus, atau lebih parah lagi muncul kanker kulit. Jadi, berhati-hatilah. Tak selamanya kulit putih itu cantik. (Ella YP/”PR”/Uci)***