Plis Deh So Gaul So Keren: Let Hang Out Begaul Dewasa Aman

Mengarusutamakan Iptek di Kampus

Google
 

Writing by on Thursday, 22 of June , 2006 at 10:16 am

"Random Healthcare Tutorial from Wikipedia"

metcalfe.jpg

 

Mungkin masih ada yang belum mengetahui bahwa tahun 2005-2006 dicanangkan sebagai “Tahun Indonesia untuk Ilmu Pengetahuan” (TIIP) oleh pemerintah. Mengarusutamakan (main streaming) iptek pun mulai digembar-gemborkan. Sebuah langkah awal mengejar ketertinggalan. Bagaimana peran perguruan tinggi?.

PADA sebuah seminar, terlontar pertanyaan dari seorang CEO perusahaan di bidang kosmetik. “Biar tidak mengimpor terus, ada tidak mahasiswa atau peneliti asal Indonesia yang bisa menciptakan mesin yang saya butuhkan?” Pertanyaan tersebut mengemuka lantaran pengalamannya yang harus mengimpor mesin dari Jerman, dengan merogoh kocek sampai miliaran rupiah. Tentu pertanyaan dengan model serupa, juga berada di benak berbagai pihak dan sering diajukan di berbagai kesempatan.

Perusahaan-perusahaan bersaing memang bukan hanya lewat harga, namun terutama lewat kemampuan berinovasi. Soal ini, dunia industri banyak berharap pada perguruan tinggi. Inovasi baru –baik berbentuk manusia, sistem atau barang– harusnya lahir sebagai output. Dari sini, persoalan diurai terus. Untuk produktif dalam berinovasi, perlu langkah-langkah sinergis.

Pencanangan tahun 2005-2006 sebagai TIIP boleh jadi merupakan fondasi awal. Prof. Dr. Oemar Anggara Jenie, Kepala LIPI, dalam artikel “Iptek untuk Pembangunan”, mengungkapkan tentang salah satu pertimbangan dilakukannya pencanangan TIIP. Menurut dia, teknologi di suatu negara akan berkembang bila didukung penguasaan dan penghayatan khazanah ilmu pengetahuan dasar yang kuat.

Ini merupakan usaha agar ilmu pengetahuan bisa menjadi mainstream atau arus utama di Indonesia. Selama ini, ilmu pengetahuan dasar dipandang sebagai penelitian yang buang-buang waktu saja. Tidak mengherankan memang, untuk menciptakan sebuah teknologi dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Misalnya, untuk menciptakan televisi, butuh waktu belasan tahun setelah penemuan mengenai gelombang warna. Begitu juga penemuan lampu, mobil, pesawat terbang, sampai komputer dan internet. Semua butuh waktu panjang.

Namun demikian, mengutip hasil dari World Science Forum (WSF) ke-2 di Budapest, Hungaria, bahwa penelitian bidang ilmu pengetahuan dasar (basic science), baik sosial maupun alam, sangatlah penting. There will be no applied science without science to be applied. Jika penelitian cenderung ke arah teknologi terapan, penelitian dasar menjadi lemah.

Sudah menjadi kesepakatan global bahwa iptek merupakan mesin masyarakat untuk pembangunan ekonomi. Dr. Yohanes Samosir, peneliti pada Universitas Queensland, bahkan secara tegas mengatakan bahwa teknologi adalah kunci kemakmuran bangsa. Sulit dibantah, bahwa kemampuan teknologi akan menentukan daya saing. Kini, semua negara di dunia berusaha mengejar ketertinggalannya dalam penguasaan iptek, termasuk Indonesia.

Sayangnya, budaya iptek belum terlalu berkembang di negeri ini. Pola pikir masyarakat belum berkembang ke arah “lebih suka mencipta daripada sekadar memakai”, “lebih suka membuat daripada sekadar membeli”, dan “lebih suka belajar dan berkreasi daripada sekadar menggunakan teknologi yang ada”.

Indikasi ketertinggalan Indonesia dalam pengembangan SDM-nya dapat terlihat dalam Human Development Report 2000, bahwa pendidikan di Indonesia berada di urutan 109 dari 174 negara yang diteliti profil pendidikanya oleh UNICEF. Indikasi lain ketertinggalan Indonesia, dapat pula diukur berdasarkan kriteria technology achievement index yang membagi negara-negara di dunia menjadi empat kelompok yaitu, technology inovator countries; technology implementor countries; technology adaptor countries dan marginalized countries. Indonesia masih masuk dalam technology adaptor countries.

“Menyalahkan” posisi Indonesia yang masih berstatus negara berkembang, sehingga iptek kurang maju, bukan tindakan bijak. Justru dengan iptek, sebuah negara bisa memperbaiki kondisi ekonominya. Tengok India. Dengan gerakan Swadeshi Mahatma Gandi-nya, negara tersebut bangun dari keterpurukan. Sampai sekarang, India masih tak bosan dengan pandangan hidup mandirinya. Semboyan “Kalau bisa buat, mengapa harus beli?” terus bergema.

Dalam upaya mengarusutamakan iptek, perguruan tinggi merupakan suatu potensi. Kemampuannya bukan saja untuk memperoleh penguasaan ilmu, namun juga sekaligus dapat menghasilkan human capital sebagai struktur dasar dalam pengembangan iptek.

**

BERBICARA pengembangan iptek, tentu tidak terlepas dari dana. Kenyataannya, anggaran iptek di Indonesia tidak juga memadai. Rasio anggaran iptek terhadap PDB sejak tahun 2000 mengalami penurunan, dari 0,052 persen menjadi 0,039 persen pada tahun 2002. Rasio tersebut jauh lebih kecil dibandingkan rasio serupa di ASEAN, seperti Malaysia sebesar 0,5 persen (tahun 2001) dan Singapura sebesar 1,89 persen (tahun 2000). Sementara itu, menurut rekomendasi UNESCO, rasio anggaran iptek yang memadai adalah sebesar 2 persen.

Kecilnya anggaran iptek berakibat pada terbatasnya berbagai fasilitas. Ambil contoh, pengembangan di bidang teknologi informasi (TI). Di Indonesia, teknologi –termasuk TI– masih ditempatkan sebagai “barang mahal”.

Namun demikian, industri TI terus melangkah maju dengan perusahaan raksasa kelas dunia, seperti Microsoft dan IBM. Microsoft sendiri, agaknya memahami benar bahwa potensi kaum muda harus dirangkul. Microsoft melakukan pemilihan terhadap mahasiswa, yang tertarik pada segala sesuatu tentang teknologi, untuk menjadi student ambassadors. Kampus sempat berbincang-bincang dengan 5 dari 20 student ambassadors tersebut, yaitu, Adrian Godong (Teknik Industri ITB), Narenda Wicaksono (Teknik Informatika ITB), Umar Ali Ahmad (STT Telkom Bandung), Sudianto (Universitas Kristen Maranatha Bandung) dan Kharisma Pratama Putra (Universitas Padjadjaran Bandung), seputar aplikasi iptek di kampus.

“Jangankan dibanding dengan negara maju, dengan Malaysia saja jauh. Misalnya, di sana internet itu 54 kbps. Murah lagi. Kurang lebih 50 ringgit. Itu sepertinya disubsidi. Kalau kita kan masih mahal,” kata Zeddy Iskandar, Business and Marketing Organization Microsoft Indonesia, kepada Kampus.

Di negara-negara berkembang seperti di Indonesia, iptek masih jadi milik sebagian kecil masyarakat. Idealnya, pemerintah Indonesia bersikap IT minded. Sudah waktunya pemerintah memberikan fasilitas infrastruktur jaringan TI ke semua lembaga pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. “Teknologi masih menjadi barang luxurious di Indonesia. Impor komputer kena pajak barang mewah. Lalu bagaimana agar komputer jadi benar-benar memasyarakat?” ujar Zeddy.

Namun, Umar tidak terlalu setuju jika pemerintah dikatakan sama sekali tidak mendukung pengembangan TI. “Sebenarnya pemerintah cukup men-support. Misalnya, saat ini mereka ramai-ramai buat web. Dana yang dikeluarkan bisa sampai miliaran rupiah lho,” ujar Umar.

Narenda pun menanggapi apa yang dilontarkan Umar. Padahal, kata Narenda, untuk membuat web tidak perlu semahal itu. Ini berkaitan dengan masih banyaknya orang-orang di pemerintahan yang kurang mengerti seluk-beluk TI. Mungkin ini akibat pemosisian iptek di Indonesia sebagai high tech, sehingga masyarakat menjadi gamang untuk menyapanya. “Parahnya lagi, hal ini ditambah korupsi di sana-sini. Dana yang turun berapa, tapi yang didapat pembuat web-nya paling tidak banyak,” kata Narenda.

Itu dari sisi infrastruktur. Sedangkan dari sisi pengembangan kultur ilmiah di kampus, Adrian mengaku masih merasa kurang. “Mungkin ini berbicara kurikulum. Beban belajar kadang terasa berat dan terlalu padat. Kadang jadi tidak ada waktu untuk kegiatan eksplorasi,” jelasnya.

Senada dengan Adrian, Umar pun menyoroti tentang kurikulum. “Kurikulum kita kan baru di-update setiap 5 tahun. Intinya, industri selalu lebih cepat dibanding kampus. Jadi, kita jangan pernah menutup diri. Belajar di kampus saja tidak cukup,” terang Umar.

Kultur ilmiah di kampus dapat dibangun dengan menggalakkan kegiatan baca-tulis karya ilmiah serta melakukan penelitian. Soal penelitian, Narenda punya pendapat. “Kalau di luar negeri, perguruan tingginya sudah banyak yang research oriented. Di sini, belum. Padahal, dari riset bisa jadi uang. Main problem-nya memang pada budaya riset. Sebenarnya mungkin cukup banyak mereka-mereka yang pada awalnya semangat untuk mencari tahu tentang sesuatu. Namun selanjutnya melempem. Sebab, peneliti belum jadi sebuah profesi. Ahli riset itu kurang jelas masa depannya,” paparnya.

Sementara, Yenni M. Djajalaksana, M.B.A., Dekan Fakultas TI Maranatha, berpendapat, cara yang paling baik dalam merangsang interest mahasiswa kepada iptek adalah melalui kompetisi. “Kompetisi merupakan peluang bagi mahasiswa untuk menunjukkan hasil inovasinya kepada publik,” katanya.

Setidaknya hal tersebut telah dilakukan oleh Umar dengan mengikuti kompetisi Imagine Cup 2005. Lewat aplikasi mobile web services yang diberi nama Embrace, Umar dan timnya yang juga berasal dari STT Telkom, berhasil menjadi juara di kompetisi nasional, kemudian terbang ke Jepang untuk maju ke babak final Imagine Cup 2005. Tahun 2005 lalu, even ini diikuti 92 negara dengan 17 ribu peserta. “Ide awalnya berawal dari mismanagement dalam pengelolaan bantuan bencana tsunami. Arab Saudi tidak mau menyumbang lewat pemerintah. Nah, itu kenapa? Karena ada rasa tidak percaya. Makanya, saya buat sistem yang bisa memonitor dana,” papar Umar.

Tahun ini merupakan kali keempat Imagine Cup diadakan. Finalnya akan berlangsung Juli 2006 di India. Kompetisi yang didukung Microsoft ini, diadakan sebagai wadah kompetisi bagi para pelajar dari sekolah menengah hingga mahasiswa pascasarjana, untuk beradu potensi dan kreativitas mereka dalam bidang teknologi, yang dibagi dalam kategori, software design, algorithm, IT, programming battle, short film, dan interface designer. Bahkan, untuk kategori software design, uang sebesar 25,000 dolar AS sudah menunggu.

Melalui kompetisi, kreativitas dibangun. Apalagi lewat ajang internasional, tentu turut mengharumkan nama bangsa. Berbagai upaya dalam kerangka mengarusutamakan iptek di kampus, semoga bisa melahirkan Einstein asli Indonesia. Bukan tidak mungkin.***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Leave a comment

Category: Remaja ABG

No Comments

No comments yet.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Random Life Quotes

Plis Deh So Gaul So Keren community usually refers to a group of people who interact and share certain things as a group. Our articles focuses on human communities, in which intent, belief, resources, preferences, needs, risks and a number of other conditions may be present and common.