Ketika Depresi Mengancam Jiwa
Writing by on Thursday, 22 of June , 2006 at 10:27 am
"Random Healthcare Tutorial from Wikipedia"
BERBAGAI spekulasi muncul pada peristiwa pembunuhan tiga anak mungil oleh ibu kandungnya sendiri (Ny. AKS). Para pakar berbicara sesuai bidang keilmuan masing-masing. Bukan saja para pakar yang berbicara, bahkan awam pun sibuk menganalisis dan membicarakannya. Mengapa kasus ini menjadi begitu menarik perhatian massa?.
Kasus ini menjadi unik lantaran berbagai sebab. Yang menjadi korban adalah tiga anak mungil yang lucu-lucu. Keluarganya termasuk golongan dengan tingkat intelektualitas tinggi dan agamis. Sehingga timbul pertanyaan, zaman edan apakah ini sehingga seorang ibu tega menyudahi hidup anaknya? Tak terdengarkah tangisan atau tak terlihatkan rontaan kesakitan sang buah hati ketika mereka bergulat dengan maut? Sedalam apakah persoalan yang mengimpit jiwa sang ibu?.
Kasus pembunuhan anak oleh seorang ibu, sebenarnya bukan terjadi pertama kali. Beberapa waktu lalu terjadi juga pembakaran anak oleh seorang ibu yang putus asa menghadapi kesulitan hidup. Peristiwa yang kebetulan terjadi di Bandung kali ini, memang merupakan fenomena menarik. “Ah, kelihatannya bukan soal kesulitan ekonomi. Ibunya saja lulusan perguruan tinggi terkenal. Bahkan, punya pembantu rumah tangga pula,” komentar Nina, seorang ibu rumah tangga.
Silang pendapat dan beribu tanya memang tak akan membuat kasus ini selesai. Tanpa data yang lengkap, psikiater Dr. Tuti Wahmurti Sp. K.J. dari bagian Psikiatri Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dan psikolog Dewi Kumaladewi S.Psi. tak berani memastikan apa yang diderita perempuan malang ini. Namun, karena beberapa pakar menyimpulkan kemungkinan tersangka mengalami depresi, tak ada salahnya kita berjaga-jaga terhadap “kambing hitam” bernama depresi ini.
“Sebenarnya ada kekhawatiran saya terhadap pemberitaan media massa bahwa kemungkinan tersangka mengidap depresi. Saya khawatir masyarakat mempersepsikan salah tentang apa itu depresi. Saya khawatir masyarakat menyangka bahwa depresi membuat seseorang menjadi pembunuh. Padahal belum tentu,” tegas Dewi. Lebih jauh, bahkan penderita depresi justru patut dikasihani dan ditolong.
**
DALAM kasus Ny. AKS, jika memang benar ia melakukan pembunuhan terhadap ketiga anaknya karena tengah dilanda depresi, maka yang terjadi padanya saat itu adalah depresi yang sudah mengarah pada psikotik. Pada penderita ini sudah terjadi delusi atau halusinasi.
“Seharusnya orang terdekat bisa mengetahuinya. Perilakunya akan tampak berbeda dengan keadaan normal. Penderita mungkin mengeluh karena suatu hal. Atau bisa juga merasa ada orang berbisik-berbisik, menyuruhnya melakukan sesuatu,” ujar Dewi menjelaskan.
Depresi itu sendiri adalah suatu bentuk gangguan yang bersangkutan dengan masalah atau fungsi perasaan. Gangguan ini bisa memengaruhi kepribadian seseorang, misalnya rasa marah, sedih, putus asa, dan sebagainya.
“Sebagian besar perempuan memang lebih rentan terhadap depresi,” kata Dewi.
Lebih jauh Dewi menjelaskan, ada tiga faktor penyebab depresi, secara genetik, karena pengaruh hormonal, pengaruh sosial budaya.
Faktor pengaruh sosial budaya terkait erat dengan pandangan bahwa wajar perempuan menumpahkan atau mengikuti perasannya, sementara laki-laki tidak. Sehingga, ketika laki-laki mengalami masalah perasaan, ia tidak terlalu memerdulikannya. Berbeda dengan perempuan, ia akan sangat terlarut dan mengikuti perasaannya. Depresi juga bisa berkaitan dengan siklus datang bulan yang dipengaruhi oleh hormon estrogen. Depresi melanda pula perempuan yang baru melahirkan, biasa disebut fenomena baby blue.
Depresi sendiri awalnya terkait dari stres kecil-kecilan. Setelah seseorang mengalami stres berkepanjangan, lama kelamaan penderita akan mengalami depresi. Sedangkan stresor atau faktor pencetus stres tidak sama pada semua orang. Misalnya pada seorang ibu rumah tangga, karena fokus kehidupannya adalah anak dan suami, maka pencetus stres bisa berasal dari dua pihak yang ia sayangi itu. Ketika ia mendapati masalah dalam hubungan ini, misalnya suami selingkuh atau kekurangan kasih sayang, ia menjadi stres.
Berbeda halnya dengan perempuan karier. Faktor pencetus stres mungkin malah berasal dari lingkungan kerja dan pekerjaannya.
**
MENGENAI jumlah penderita depresi, di kalangan perempuan ataupun laki-laki, Tuti Wahmurti tak mengetahui angka pasti. Namun ia mengakui bahwa penderita depresi banyak sekali. “Populasinya, lebih kurang 50 persen dari penduduk dunia pernah mengalaminya,” kata Tuti.
Penanganan pada penderita depresi, menurut Tuti tak cukup dengan pemberian obat antidepresan, juga diperlukan psikoterapi. Namun, ada yang lebih penting dari pengobatan, adalah pencegahan atau upaya prenventif. Faktor pertama yang harus diperhatikan adalah masalah internal, semua individu sebaiknya memiliki kemampuan mandiri, termasuk dalam kemampuan mengemukakan pendapat atau berkomunikasi.
Untuk menghidari depresi ini Tuti menilai pentingnya dukungan lingkungan. “Sejak dini kita harus mulai membentuk pribadi kuat pada anak-anak. Sebab, anak-anak juga bisa terkena stres atau depresi. Orang tua harus mampu menerapkan pola asuh yang benar terhadap anak-anak, agar kelak ia menjadi manusia yang mandiri, percaya diri dan mampu berkomunikasi,” pesan Tuti.
Salah satu contoh pengasuhan yang benar dalam rangka membentuk kepribadian yang kuat, dengan tidak selalu menyalahkan anak. “Sekecil apa pun usaha anak harus dihargai,” ujar Tuti.
Lepas dari pembentukan kepribadian sejak kecil, tantangan kepribadian seorang perempuan juga masih harus dialami saat mereka berumah tangga. Konsultan masalah keluarga, H. Koeswara K.Y. menilai, kaum laki-laki punya andil dalam membentuk kepribadian istri. Dari kasus-kasus yang ditangani, Koeswara memang melihat betapa banyak perempuan yang “terpaksa” menjadi orang lain karena suami menghendaki begitu.
“Benar dalam agama bahwa suami adalah pemimpin. Namun dalam memimpin rumah tangga tak bisa seorang komandan, misalnya, melakukan komando kepada istri sebagaimana ia memimpin anak buahnya,” tegas Koeswara.
Koeswara sering mendapati seorang istri yang “terpaksa” menurut perintah suami karena takut untuk berpendapat atau bertengkar. “Padahal di dalam sini (hati-red.), ia tidak setuju. Tapi karena suami adalah pemimpin, para istri terpaksa mengiyakannya. Padahal, mungkin keinginan suami itu bertolak belakang dengan fitrah manusia, misalnya melarang istri bersosialisasi. Selama rambu-rambu pergaulan dipatuhi, mengapa harus takut membiarkan istri bergaul,” cetus Koeswara.
Dikhawatirkan pada suatu saat akumulasi kekecewaan seorang istri meledak karena tak bisa menyampaikan pendapat dan bersikap sesuai kehendaknya.
Dalam Islam, Koeswara yang juga seorang penceramah ini mengatakan, justru aturan-aturan yang ada sangat indah. Istri boleh menjalin silaturahmi dengan tetangga dan bebas mengemukakan pendapatnya selama itu benar. (Uci Anwar)***
Leave a comment
Category: Wanita Dewasa
- Add this post to
- Del.icio.us -
- Meneame -
- Digg
No comments yet.
You must be logged in to post a comment.