Bosan Kuliah Pilih Hiburan
Writing by on Thursday, 22 of June , 2006 at 10:13 am
"Random Healthcare Tutorial from Wikipedia"

DUNIA pendidikan Indonesia memang tengah menjadi sorotan banyak pihak. Sudah bukan lagi barang baru, tapi juga tidak menjadi barang bekas untuk terus memikirkan dunia pendidikan yang tidak menjadikan manusia sebagai subjek pendidikan itu sendiri.
Pandangan mendasar itu telah membawa beberapa efek luar biasa bagi pembentukan karakter manusianya. Pendidikan pada akhirnya dianggap sebagai wahana mencari gelar. Wahana yang menuntun pesertanya sebagai rutinitas. Rutinitas itu pada akhirnya melahirkan sebuah kejenuhan. Alih-alih pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, malah melahirkan golongan pencari kesenangan. Meski arus ini tidak diamini oleh semua peserta didik.
Padahal, mahasiswa selalu dipercaya sebagai kelompok penggerak perubahan. Selalu menjadi aktor di balik setiap kejatuhan rezim-rezim penindas. Tapi apakah label itu masih menjadi pandangan utama mahasiswa?.
Ici’ misalnya lebih memilih duduk menunggui sebuah toko buku alternatif. Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Program Ekstensi Universitas Padjadjaran, Ici’ tidak melarikan diri kepada dunia hiburan seperti dugem atau kafe.
Meski kampusnya sepi dari kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, tapi ia berharap kampus memprioritaskan workshop dan pelatihan yang berkaitan dengan jurusan jurnalistik yang dipilihnya. Hal ini, katanya lebih mengasikkan dan menambah wawasan pengetahuannya.
Sementara hiburan, baginya, bukan sebagai jalan hidup. Itu hanya selingan di tengah kondisi kampus yang sarat dengan SKS dan tugas-tugas. “Aduh dugem itu bukan dunia saya,” katanya dengan tawa kecil.
Hal senada dilontarkan Amo, mahasiswa Widyatama. Amo yang sedang sibuk mempersiapkan turnamen biliar mengatakan, sebanyak 55 persen mahasiswa di kampusnya lebih menyukai pergelaran musik dibanding aksi-aksi dan seminar-seminar politik. Sementara sisanya tersebar ke dalam kelompok-kelompok minat yang jumlahnya kecil dan sporadis. Untuk dirinya, Amo mengaku tidak terlalu memilih porsi berlebihan ke salah satunya.
Berbeda halnya dengan Sirin, yang juga kuliah di Widyatama, dia anti dengan aksi-aksi politik. Malah, katanya, hiburan menjadi urutan pertama dalam prioritas hidupnya. Sementara belajar bisa urutan kesekian. “Kuliah itu udah bikin suntuk,” kata gadis putih berkacamata ini.
Sementara, soal peran membantu orang lain, Sirin mengatakan, hal itu bisa terwujud dengan menarik sumbangan kepada teman-temannya di kampus. Sebagaimana yang biasa dilakukan saat ada bencana alam di pelosok kampung.
Hal yang sama ditegaskan Rasyid, mahasiswa Teknik Kelautan ITB. Rasyid yang kebetulan pentolan sebuah grup band kampusnya, mengatakan bahwa hiburan merupakan intermeso di tengah kesulitan saat ini. Hiburan pun bisa menjadi pintu masuk yang efektif untuk membantu kesusahan orang lain.
“Dunia hiburan membuka ruang keterlibatan massa lebih besar dibanding dengan panggung politik. Saya belum kepikiran urusan politik. Orang lain mungkin sudah,” ujarnya singkat.
Sementara gadis asal Jurusan Biologi ITB, Eka Hilda, menyatakan, aksi-aksi sosial dan politik itu masih penting dilakukan mahasiswa. Tapi juga bukan berarti hiburan ditinggalkan. Keduanya, bisa dipadukan menjadi pergelaran acara yang menarik dan bermanfaat. “Atur saja kemasannya lebih menarik,” ungkapnya.
Eka sendiri mengaku tidak terlalu tertarik dengan dunia hiburan malam, atau yang biasa disebut dunia gemerlap. Meski ia asal Bandung, di mana dunia malam menjamur di mana-mana, tapi katanya dirinya mencari hal yang lebih bermanfaat dari sekadar membunuh waktu dengan hura-hura.
“Yang berguna itu kalau mengajak kita berpikir, nggak sekadar have fun,” ujarnya.**
agus rakasiwi
kampus_pr@yahoo.com
Leave a comment
Category: Remaja ABG
- Add this post to
- Del.icio.us -
- Meneame -
- Digg
No comments yet.
You must be logged in to post a comment.