
BERAT. Hanya satu kata yang bisa mewakili gambaran perjuangan para perempuan yang berstatus orang tua tunggal. Ketika suami pergi, bercerai atau meninggal, semua beban tiba-tiba terkumpul di pundak perempuan. Tanggung jawab materi dan tugas mendidik anak tampaknya belum cukup. Juga, ada beban dari lingkungan. Stigma negatif seorang janda–apalagi masih muda– belum hilang, bahkan di abad modern ini.
SAAT masih bersama dengan suaminya, Liana Parmita (35) boleh dibilang seorang “aktivis” di lingkungan rumahnya. Berbagai kegiatan dia ikuti, arisan, posyandu, hingga sekadar kumpul berkaroke bersama saat perayaan Agustusan. Ketika ia bercerai, tiba-tiba ia hilang dari peredaran. Bukan karena pindah rumah. Liana tetap di rumah lamanya, suaminya yang keluar. Perempuan ini kini hanya terlihat sesekali oleh tetangganya. Kalaupun ia tampak keluar dan masuk rumahnya, itu saat pergi dan pulang bekerja.
“Tahu sendiri, seperti apa predikat janda di lingkungan masyarakat. Saya menjaga betul pergaulan saya,” kata Liana.
Selain menarik diri dari kegiatan bersosialisasi, Liana yang memiliki dua anak usia sekolah menengah pertama dan sekolah dasar ini, juga berjuang untuk mencukupi kebutuhan biaya pendidikan anak-anaknya. Apalagi, sebelum bercerai Liana murni seorang ibu rumah tangga. Berkat bantuan seorang temannya, ia bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang keuangan. Honornya tak mencukupi biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya. Oleh sebab itu, ia juga mengambil bisnis sampingan, menjual pakaian hingga kue kering.
“Pokoknya sekarang mah bagaimana saya bisa mencari duit dan duit, untuk kedua anak saya,” katanya tegas.
Terengah-engah menghidupi diri dan anak-anaknya dirasakan juga oleh Balqis. Saat ditinggal suaminya meninggal, usianya baru 40 tahun. Keempat anaknya masih dalam usia SMA dan SMP. “Sedang butuh-butuhnya biaya,” ujar Balqis.
Setelah suaminya meninggal karena gagal ginjal, Balqis langsung menggulung bajunya. Alih profesi dari ibu rumah tangga menjadi penjahit pakaian. “Tak ada waktu untuk berlama-lama bersedih. Jika saya bersedih terus, bagaimana anak-anak ?” kata perempuan tangguh ini. Dengan sedikit uang sisa tunjangan dari kantor suaminya, ia mampu bertahan hingga kini. Bahkan, kedua anak terbesarnya sudah menjadi sarjana. Dibantu anak sulungnya yang sudah bekerja, kini ia tinggal berjuang untuk membiayai anak ke tiga dan keempat yang masih kuliah.
**
BEBAN berat seorang perempuan yang mejadi orang tua tunggal diakui oleh psikolog Ihsana Sabriani Borualogo, S.Psi, M.Si. Menurut pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung ini, tahap-tahap berat dirasakan perempuan sejak dimulainya perpisahan (baik perpisahan karena cerai atau maut).
“Terutama ketika suami meninggal, ada masa transisi yang harus dilalui perempuan. Untuk diri sendiri dia butuh waktu menyembuhkan lukanya,” tutur Ihsana.
Terapi bagi para perempuan yang sedang bersedih ini harus datang dari lingkungan terdekatnya, entah itu orang tua, adik, kakak, atau paman.
Ketika masa transisi lewat, perempuan harus menjelma menjadi dua “sosok” sekaligus. Sebagai seorang ibu yang lemah lembut dan sebagai seorang ayah yang bisa memberikan aturan-aturan tegas kepada anak-anaknya.
“Kendati mungkin bisa berlaku sebagai seorang ayah, anak tetap butuh figur seorang lelaki, terutama untuk anak laki-laki. Ini bisa diperoleh lewat laki-laki dalam lingkungan terdekat, seperti kakek atau paman sang anak,” tutur Ihsana.
Mencarikan figur kebapakan bagi anak-anaknya pada lingkungan terdekat itulah yang dilakukan oleh Rose (44). Setelah suaminya meninggal, ketika ia kewalahan menghadapi tingkah putra-putranya yang baru memasuki gejolak remaja, Rose meminta bantuan Sasmita (40), adik iparnya.
“Setiap ada persoalan, baik dari sisi perkembangan jiwa anak maupun masalah keluarga lainnya, saya selalu datang pada Sasmita. Biasanya Sasmita mendatangi anak-anak saya dan mengajak mereka bicara dari hati ke hati,” kata Rose.
Cara seperti ini diakui Rose cukup ampuh. Kini kedua anaknya sudah menjadi sarjana dan bekerja di perusahaan besar. Tak lama lagi keduanya akan menikah. “Kedua anak saya kini sangat dekat dengan pamannya. Bahkan begitu mereka punya pacar, yang pertama diberi tahu adalah paman mereka. Untuk acara lamaran pun, mereka berunding dengan pamannya. Saya bersyukur memiliki potret paman yang bijaksana seperti itu,” aku Rose.
**
NAMUN seorang perempuan yang berpisah hidup (cerai) dengan suaminya tak bisa serta, merta menggantikan figur sang ayah dengan orang lain. Selama sang ayah hidup dan memungkinan untuk berkomunikasi dengan anaknya, seorang ibu harus menegaskan bahwa anak masih bisa melihat figur seorang laki-laki pada sang bapak.
“Keadaan menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya karena berpisah dengan suami juga harus disikapi dengan bijaksana. Harus diberitahukan pada anak, bahwa mereka tetap bisa mendapatkan kasih sayang dari ibu dan ayahnya. Hanya kesempatannya tidak seluas ketika ibu dan ayahnya masih berada dalam lembaga pernikahan,” jelas Ihsana.
Dari kasus perceraian, selain beban materi yang berat dihadapi kaum perempuan adalah soal stigma negatif para janda cerai. Itu yang dirasakan benar oleh Febriani (28). Sindiran tetangganya sudah menjadi santapan telinganya sehari-hari. Waktu masih belum bercerai dengan suaminya, tetangganya tak pernah menggunjingkannya ketika ia harus pulang malam hari.
“Tapi kalau sekarang saya pulang malam karena lembur di kantor, ada saja yang menyindir, lembur atau lembur? Salah satu kalimat yang sudah saya anggap sebagai angin lalu saja,” kata Febri.
Perbedaan pandang masyarakat antara janda cerai dan ditinggal mati, memang diakui Ihsana masih sangat kental. “Susah mengubah pandangan negatif pada seorang janda, apalagi janda cerai. Ini pengaruh kultur di Indonesia, di mana orang menjunjung tinggi nilai pernikahan. Ketika orang tua dalam situasi pernikahan dirasakan saling melengkapi, maka saat berpisah ada yang tidak sempurna. Orang menjadi suudzon, berpandangan negatif,” tutur Ihsana.
Namun, dengan pandangan yang masih subur terjadi ini Ihsana menyarankan hendaknya para perempuan tidak menyerah pada keadaan. Keadaan menjadi orang tua tunggal dan perempuan tanpa pendamping laki-laki tak boleh menjadi halangan baginya untuk melakukan sesuatu yang berguna. “Tetap beraktivitas seperti biasa, namun tahu cara membawa diri,” kata Ihsana.
Apa yang dilakukan Yuyu seorang janda ditinggal meninggal suaminya ketika usia 35 tahun mungkin bisa ditiru. Ketika suaminya masih ada, ia bebas menyalurkan hobi berolah raga tenis meja. Kebetulan suaminya mendirikan tempat berlatih tenis meja di seberang rumahnya. Karena pemain andal, Yuyu biasa dicari para bapak yang ingin bermain tenis meja. Ia biasa melengkapi menjadi orang keempat saat bermain double,ketika saat para bapak hanya berjumlah tiga orang.
Setelah suaminya meninggal, Yuyu meninggalkan kebiasaan menjadi satu-satunya yang geulis di tempat tenis meja. Ia kini hanya mau bermain tenis meja jika ada perempuan lain di tempat itu. Alhasil, setelah hampir tiga tahun menjanda, tak ada satu pun gosip menimpa perempuan ini. (Uci Anwar)***