Dia yang hidup tanpa rahim
Writing by on Wednesday, 17 of May , 2006 at 8:34 pm
"Random Healthcare Tutorial from Wikipedia"
Dia tetap tegar meski harus menopause dini. Rahimnya diangkat karena kista ovarium dan mioma uteri. Dia pun mengidap perlengketan usus, yang membuat perutnya dibedah tiga kali. Tapi, “Ini bukan penderitaan. Ini tantangan,” kata Dra Hastaning Sakti, tenang. Psikolog ini pun bertutur kisah hidupnya pada SM CyberNews.Sepanjang hidup, saya memang akrab dengan penyakit. Tapi situasi paling menakutkan adalah pada 1995 ketika menghadapi operasi pengangkatan kandungan dan indung telur. Itu situasi yang paling berat. Bayangkan, saya harus mengalami menopause lebih dini. Saat itu umur saya baru 35 tahun. Bayangkanlah, bagaimana rasanya seorang perempuan hidup tanpa ovarium. Padahal itu adalah harta yang paling berharga bagi perempuan. Saat itu saya tak bisa membayangkan bagaimana hidup sebagai perempuan tanpa kandungan.
Dia tetap tegar meski harus menopause dini. Rahimnya diangkat karena kista ovarium dan mioma uteri. Dia pun mengidap perlengketan usus, yang membuat perutnya dibedah tiga kali. Tapi, “Ini bukan penderitaan. Ini tantangan,” kata Dra Hastaning Sakti, tenang. Psikolog ini pun bertutur kisah hidupnya pada SM CyberNews.Sepanjang hidup, saya memang akrab dengan penyakit. Tapi situasi paling menakutkan adalah pada 1995 ketika menghadapi operasi pengangkatan kandungan dan indung telur. Itu situasi yang paling berat. Bayangkan, saya harus mengalami menopause lebih dini. Saat itu umur saya baru 35 tahun. Bayangkanlah, bagaimana rasanya seorang perempuan hidup tanpa ovarium. Padahal itu adalah harta yang paling berharga bagi perempuan. Saat itu saya tak bisa membayangkan bagaimana hidup sebagai perempuan tanpa kandungan.
Memang, sebenarnya tak apa-apa. Tapi piye? Masak perempuan harus kehilangan kandungan dan menopause semuda itu? Ya, semuda itu saya harus menghadapi hantu menopause yang selama ini ditakuti kaum perempuan. Harus mengalami kemunduran hasrat seksual.
Cukup lama pergulatan batin saya. Butuh waktu dua bulan untuk menata diri. Saya harus menata perasaan sendiri, sejauh mana, berapa persen saya mantap menjalani operasi itu. Pertama, saya harus bicara dengan bapak agar dia tak sok. Dua, membereskan masalah pekerjaan, dan ketiga, saya sendiri siap tidak menghadapi itu. Tak hanya siap lahir dan batin. Saya coba bicara pada diri sendiri, pada organ tubuh saya. Ini biasa saya lakukan tiap kali menghadapi penyakit. Saya katakan, ‘Ya sudah kandungan, saya terima kasih, saya sudah diberi dua anak, kalau mau diambil Allah kembali ya monggo.’ Dengan begitu saya siap menghadapi operasi. Untungnya saya memang sudah memiliki dua orang anak.
Ya, menopause memang penderitaan tersendiri. Bukan masalah seksual, tapi lebih pada keseimbangan hormon. Itu menyulitkan seorang perempuan. Misalnya saja, kulit mulai keriput, serta keluhan lain yang wajar dialami perempuan menopause. Beruntung saya bisa menghadapi itu, meskipun harus melakukan sulih hormon setiap hari. Saya cari obat yang cocok dengan tubuh. Akhirnya ketemu juga, dan mahal sekali. Harganya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu per ampul. Mungkin harga itu akan terus naik.
Selama 10 tahun terakhir ini saya mengonsumsi obat itu. Istilah medisnya Hormon Replacement Terapy (HRT) atau sulih hormon.
Suami mengerti kondisi saya, dan dia harus tahu. Ternyata menerima saja. Jadi tak begitu masalah. Saya juga tak merasa sedih. Saya justru ingin mematahkan stigma. Selama ini menopause jadi momok perempuan. Ternyata tidak. Buktinya masih bisa energik. Saya banyak bicara di seminar-seminar menopause. Saya memberi pemahaman bahwa menopause tak selalu menakutkan. Banyak di antara ibu-ibu yang mendengar ceramah saya tak tahu kondisi saya. Mungkin, jika mereka tahu saya sudah tak memiliki kandungan, mereka akan terhenyak kaget.
Usus Lengket
Sejak remaja, saya memang sudah akrab dengan penyakit. Saat duduk di bangku SMP pada 1974, saya kena usus buntu. Kemudian, pada 1977 saya mengalami gagar otak akibat jatuh dari motor.
Penderitaan beruntun baru saya alami sejak 1994. Beragam penyakit mulai menggerogoti tubuh. Awalnya saya merasa ada yang tak beres dalam perut, yang pada akhirnya mengakibatkan saya harus merelakan kehilangan kandungan. Kala itu, seringkali saya merasa kesakitan di sekitar kandungan. Saya belum memeriksakan hal itu ke dokter. Hingga sekitar 1995 saya mengalami pendarahan hebat. THasil deteksi dokter, saya divonis menderita kista ovarium. Tergolong sudah sangat parah. Dokter memutuskan indung telur saya harus diangkat. Pada tahun itu juga indung telur saya sebelah kanan diangkat. Tapi itu tak menyembuhkan. Tak berapa lama kemudian saya mengalami gejala yang sama. Meski indung telur saya sudah diangkat, ternyata perut masih saja sakit. Ternyata sumbernya dari indung telur sebelah kiri, dan harus diangkat. Saya baru tahu kemudian, pengangkatan bagian kanan diangkat lebih dulu karena dianggap sudah parah. Indung telur sebelah kiri tak begitu parah. Begitu dua indung telur saya diangkat, dan menyusul kemudian kandungan saya, karena penyakit mioma uteri.
Bersamaan dengan pembedahan itu, usus saya mengalami masalah perlengketan. Jadi saat itu usus saya juga dibenahi. Namun tak sampai dipotong. Usus yang lengket hanya ditempel di dinding perut. Rupanya sejak saat itu, usus saya terus bermasalah.
Pada 1996, kambuh. Akhirnya pada 1997, perut saya dibuka lagi, operasi! Tak selesai. Ternyata pada 1999 kambuh lagi. Masuk rumah sakit, operasi lagi, saat itu tak ditempel. Tapi usus saya kata dokter dirampel. Ndak tahu itu diapakan. Meski perut saya sudah dibedah tiga kali, saya masih sering mengalami kram usus.
Menolak Operasi
Praktis sejak 2001 sampai kini saya dalam kondisi sakit. Dokter menganjurkan usus saya harus dipotong. Tapi saya belum melakukannya. Saya ingat, sudah dua kali usus saya diedel-edel. Dulu saja meski tak dipotong rasanya sakit sekali. Terutama setelah sadar, bisa makan, sakitnya luar biasa. Saya bayangkan, bagaimana seandainya usus saya dipotong, tentu sakitnya lebih hebat lagi. Namun diagnosa dokter tetap menyarankan saya untuk operasi potong usus.
Saya coba cari pendapat dari dokter lain. Berharap dengan mencari second opinion ada pendapat berbeda. Saya minta pendapat dokter di Yogyakarta. Ternyata hasilnya tak berbeda jauh. Hasil diagnosa, dokter tetap menyarankan operasi. Dokter bilang anytime kalau saya masuk rumah sakit langsung operasi. Kecele saya.
Saya masih saja menawar. Sampai saat ini saya masih menyimpan surat untuk operasi. Malunya, kalau harus konsultasi ke dokter yang sama. Malu karena saya membandel. Memang sampai saat ini, kalau kumat, perut kembung dan terasa sesak. Kadang tiba-tiba saja bisa muntah darah. Sedih sekali memang. Saya tak bisa membungkuk, kalau dipaksakan perut saya sakit sekali. Untuk sujud pun tak bisa. Misalnya harus mengambil benda di lantai, harus pakai kaki kalau tak ingin perut ini sakit. Sampai kini saya tak tahu, kenapa terjadi perlengketan usus. Tapi saya belum juga berani untuk operasi.
Sementara ini untuk mengatasi rasa sakit, saya tak makan nasi, makanan keras, serta minuman bersoda. Selama tiga tahun ini saya hanya mengkonsumsi bubur halus, susu berkalori tinggi. Coba bayangkan bagaimana rasanya orang yang biasa makan nasi tak makan nasi. Tapi syukurlah, saya tetap diberi kekuatan, dan tak loyo.
Pilihan saya menolak operasi bukan tanpa risiko. Setiap saat perut saya bisa kambuh, dan sakitnya sungguh luar biasa. Tapi tak apa, saya ngeri kalau usus saya harus dipotong. Sakitnya pasti luar biasa.
Meski kini sebenarnya saya masih dalam kondisi sakit, tapi bukan berarti, saya harus istirahat atau meratapi kesakitan ini. Itu tak ada dalam kamus hidup saya. Saya harus tetap tegar, seperti tak ada satu pun penyakit yang menggerogoti. Termasuk menjalani aktivitas sehari-hari, harus mengurus anak, suami, juga ayah (kini sudah meninggal), serta tugas-tugas profesi. Jadi saya lakukan semua itu; sebagai ibu, istri, dan dosen sekaligus, meski dalam kondisi sakit. Tapi saya sanggup. Saya memang harus mandiri. Apalagi suami tinggal di Yogyakarta.
Saya juga tak harus shock saat menghadapi operasi. Meski itu harus saya hadapi sendiri. Berangkat operasi pun sendiri. Misalnya saja, besok masuk rumah sakit untuk operasi, hari ini saya masih mengantar Almira Santi, anak kedua saya, nonton film Dalmation. Tapi koper, serta keperluan untuk opname sudah siap semua. Usai nonton, saya pamitan pada anak, dan menyetir mobil sendiri ke rumah sakit. Kunci mobil saya titipkan satpam.
Pulang operasi, saya tak bisa tiduran saja. Kaki ini rasanya gatal. Inginnya bergerak terus. Kalau saat itu melihat kamar mandi kotor, ya langsung saya bersihkan. Bayangkan saja, tiga minggu setelah operasi, saya pun sudah nyetir mobil sendiri. Perut masih perbanan. Memang sakit sekali rasanya. Tapi tetap saya tahan.
Pernah satu bulan setelah operasi, saya langsung ikut out bond. Turun tebing pakai tali, itu pun saya lakoni. Itu biasa bagi saya. Saya sudah bisa menyeimbangkan tubuh, dan tahu potensi juga kelemahan. Karena setiap rasa kesakitan menyerang, jiwa dan raga ini saya ajak bicara karena dasarnya jiwa dan raga itu satu. Itu yang membantu kesembuhan, juga menambah kekuatan saya menghadapi beragam cobaan.
Berdialog dengan diri sendiri, saya semakin tahu siapa diri saya. Apalagi, saya memang terlalu percaya diri, termasuk dalam menghadapi penyakit. Sehingga tetap tegar. Penyakit ini tantangan, dan saya harus bisa menghadapi serta bisa mengatasi itu. Sehingga apa pun yang terjadi, bisa saya ambil hikmahnya. Jika orang bisa mengambil itu maka akan bisa lebih bijak dan dewasa.
Prinsip saya, saat sakit harus dijalani dengan biasa saja. Kalau sakit itu dimanja, makin terasa sakit. Ketegaran saya ternyata dicontoh anak sulung saya, Aditya. Malah dia lebih kuat. Tahun 2001 lalu, dia kena tumor otak. Dia lihat ibunya selalu tegar, dia pun lebih kuat melawan sakitnya itu. Dia tak mau dikatakan sebagai anak yang sakit. Sekarang dia masuk Fisipol UGM Yogyakarta, semester I.
Saat ini saya punya cara untuk menghilangkan rasa sakit. Saya selalu meditasi jika rasa sakit itu menyerang. Itu cara penyembuhan yang saya lakukan. Jika sakit datang, saya diam. Tarik napas, saya kumpulkan di tempat yang sakit, lalu dihembuskan. Terus begitu sampai ras sakit itu menghilang.
Tentu saja dibarengi dengan doa, semampu saya, yang penting menyebut nama Allah. Dalam diam dan mata terpejam, saya buat titik yang sakit dalam tubuh, saya tarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan. Syaratnya, saya harus benar-benar konsentrasi.
Ternyata dengan metode itu saya bisa menghilangkan rasa. Jadi saya terus mencobanya. Penyembuhan dengan meditasi ini juga yang menjadi pertimbangan saya menolak operasi.
Sebenarnya, kemampuan ini saya dapatkan secara tak terduga. Dalam mimpi, saya diajari oleh orang berjubah putih. Kala itu masih duduk di bangku SMP.
Metode ini sangat membantu saya meredakan kesakitan. Karena rasa sakit itu datang tak terduga. Bisa menyerang kapan saja. Jika tiba-tiba rasa sakit itu datang, saya langsung meditasi, di mana pun tempatnya bisa saat ceramah, atau kuliah.
Untuk tahu apakah saya sehat atau sedang sakit mudah. Jika saya hanya duduk, pasti saya sedang sakit. Kalau saya sehat, dalam berceramah atau kuliah saya, tak pernah diam, saya selalu sambil jalan-jalan di ruang. Nah, saat diam itu saya bermeditasi. Orang tak tahu itu. Meditasi ternyata juga membuat saya tegar dalam menghadapi musibah apa pun. Termasuk ketika bapak meninggal, saya tak lagi menangis.
Selama ini Allah memberi kekuatan. Sehingga badan saya tetap kuat. Saya benar-benar mengagungkan nama-Nya. Saya tak riya, kekuatan yang ada pada tubuh saya ini karena karunia Dia. Tahun ini saya berangkat haji, lewat Yogyakarta. Saya coba mencari kesembuhan yang hakiki di tanah suci. Minta pada Allah SWT.
Saya tak menderita
Meski tubuhnya tak sehat, Hastaning Sakti tetap saja sibuk. Segudang kesibukan masih dilakoni alumni Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta ini. Simak saja, dari mengajar di Fakultas Psikologi Undip, melayani konsultasi klien, menulis paper, berbicara di berbagai seminar, siaran televisi dan radio, sampai mendampingi penderita AIDS.
”Kalau ada klien, malah bisa sampai pukul tiga pagi,” aku ibu Aditya dan Almira Santi itu.
Beragam penyakit yang dia alami tak dia ratapi. Segala yang terjadi dia ambil hikmahnya. Dia yakin Allah takkan memberi cobaan berat jika umatnya tak kuat menghadapi cobaan itu.
”Dan saya terima cobaan ini sebagai tantangan. Saya harus mampu menghadapinya,” yakin istri DR Sumsubar Saleh MSOC SC, seorang dosen UGM Yogyakarta.
Dari kesibukan itu, aku lulusan S2 Clinical Epidemiology Fakultas Kedokteran UGM, akhirnya dia tahu saat-saat tubuhnya merasa sangat capai. Biasanya pukul 20.00-22.00 WIB ”Itu harus saya manfaatkan untuk istirahat, selepas jam itu saya kerja lagi sampai pukul 01.00,” ungkap perempuan yang menggemari beragam topi ini.
Hastaning Sakti berprinsip positif thingking dan lakukan yang terbaik, do the best. Itu merupakan salah satu cara dia menyikapi beragama cobaan hidup. Aku dia, prinsip tersebut semakin hari makin erat dipegang. Katanya, itu penting untuk bisa mengambil hikmah dari balik setiap peristiwa yang dia hadapi.
”Selama hidup saya lakukan itu dan sepertinya telah terinternalisasi dalam diri saya,” ungkap dosen Fakultas Psikologi Undip itu.
Dia mengaku telah berhasil mengambil hikmah dari serentetan penyakit yang diidapnya. Satu yang terpenting, dia tak mau dikatakan menderita sakit. Sakit bukan penderitaan. Manusia harus menghadapi hidup. Dan menganggap setiap cobaan sebagai penderitaan atau tantangan?
”Saya ambil sakit ini bukan penderitaan. Ini pengalaman hidup untuk menghadapi tantangan yang lebih berat,” ujar ibu dua anak ini.
Selama ini dia menganggap rintangan-rintangan itu berat. Saya tahu, tantangan ke depan pun pasti tambah lebih berat. Karena itu dia masih bisa tertawa lepas, dan menganggap seperti tak terjadi apa-apa dalam tubuhnya. Padahal saat operasi terakhir, pada Juli 2003, ususnya sudah sangat kritis.
”Saya baru tahu ini dari cerita paman enam bulan lalu. Tapi nyatanya saya tak apa-apa sampai kini,” kisah Hasta yang mengaku kerepotan jika serangan sakit itu datang saat menyetir mobil. Sangat repot! Tangan kiri memegang perut, tangan kanan pegang setir. Susahnya saat ganti persneling, harus lepas setir. eko nuryanto/CN02
Leave a comment
Category: Wanita Dewasa
- Add this post to
- Del.icio.us -
- Meneame -
- Digg
No comments yet.
You must be logged in to post a comment.