Plis Deh So Gaul So Keren: Let Hang Out Begaul Dewasa Aman

Cerpen: Mimpi Bermimpi

Google
 

Writing by on Monday, 15 of May , 2006 at 8:52 pm

"Random Healthcare Tutorial from Wikipedia"

Mimpiku yang paling menjengkelkan adalah ketika aku dihadang oleh seorang lelaki kurus berpakaian lusuh dan compang-camping, di sebuah persimpangan jalan. Dengan wajah memelas dan menghiba, lelaki itu memohon padaku, “Ajarilah aku bermimpi.”

Semula, aku menganggap dia orang gila. Ocehannya sama sekali tak kuhiraukan. Aku terus berjalan, melangkah dengan pasti dan penuh keyakinan menuju tempatku bekerja. Pertemuan dengan lelaki compang-camping itu dengan segera dapat kulupakan, tenggelam oleh riuhnya kesibukanku menyelesaikan tugas-tugas kantor.

Tapi keeokan harinya, lelaki itu mencegatku lagi di tempat yang sama. Seragam yang dikenakannya masih serupa, lusuh dan compang-camping. Wajahnya juga tak berbeda. Tubuhnya masih juga kurus. Dan ucapan yang ia tujukan padaku pun masih sama. Hanya saja, kali ini dalam susunan redaksional yang berbeda, “Bolehkan orang seperti saya bermimpi?”

Tentu saja setiap orang boleh dan bebas bermimpi. Siapa yang berhak melarang? Aku tertawa geli dalam hati. Tapi aku tidak melontarkan satu patah kata pun. Aku merasa rugi untuk merespons ucapan ngawurnya yang tidak bermutu. Aku memilih untuk terus berjalan, menuju kantorku yang masih seratur meter di depan.

Aku berharap itu adalah pertemuan yang terakhir dengan lelaki itu. Tapi keesokan harinya aku masih menemukan dirinya di tempat serupa. Keesokannya pun masih bertemu. Demikian juga keesokannya lagi. Dan setiap bertemu, ia tak pernah absen bertanya tentang mimpi, dalam susunan redaksional yang berbeda-beda.

Untuk menghindari lelaki itu, aku memutuskan untuk rnemilih jalan lain menuju kantorku. Anehnya, dia masih bisa mencegatku, di sebuah persimpangan jalan lain. Begitu pula ketika kugunakan ruas jalan lain. Ia masih juga menemukanku. Yang membuatku jengkel, ia tak pernah berhenti bertanya tentang mimpi. Seolah-olah hanya itulah kalimat yang dapat keluar dari mulutnya.

Akupun sadar, tak mungkin lagi menghindari lelaki itu. Aku seperti dikejar-kejar oleh mimpinya yang sama sekali tidak kuketahui bentuknya, dan apa maksudnya. Maka, untuk mengurangi rasa jengkel, kucoba sedikit memperhatikan dirinya. Kuamati seluruh tubuhnya. Dan seperti menemukan sebentuk dunia yang asing, aku tersentak. Baru kusadari bahwa lelaki itu begitu miskinnya. Dari hari ke hari ia selalu mengenakan pakaian yang sama. Wajahnya pucat menandakan kurang makan. Tubuhnya kurus kering. Entah mengapa, aku jadi iba padanya.

“Apa sebenarnya yang kamu inginkan?” tanyaku penuh simpati.

Tak akan pernah kulupakan senyumnya ketika ia mendengar ucapanku itu. Senyum yang amat primitif, seolah ingin mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kesediaanku meladeni ucapannya.

“Saya ingin bermimpi,” ujarnya perlahan. Suaranya bergetar, seperti orang ketakutan. “Saya sudah bosan hidup seperti ini, penuh derita. Saya ingin bermimpi untuk pakaian yang lebih baik, dan makan tiga kali sehari. Yang bergizi, tentu saja. Kalau masih boleh, saya ingin bermimpi juga untuk dapat memeluk seorang istri di malam hari, di atas kasur milik saya sendiri. Tapi jangankan mewujudkannya. Untuk bermimpi pun saya telah gagal.”

“Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”

“Saya tahu bahwa Anda seorang yang bisa dan sanggup bermimpi. Saya boleh titip, kan? Maksud saya, menitip mimpi, gitu.”

“Menitip mimpi?” aku mengerutkan kening.

“Begini, Mas. Kalau Anda punya waktu luang, sanggupkah Anda bermimpi, tetapi atas nama dan untuk diri saya?”

Sialan! Aku sudah terlanjur simpati padanya. Ternyata ia memang tak lebih dari seorang gila. Dengan penuh kejengkelan kutinggalkan lelaki itu. Tapi seketika ia menarik lenganku, mengisyaratkan agar aku tidak pergi.

“Mau apa lagi?” bentakku.

“Anda belum menyanggupi permintaan saya.”

“Saya tidak sanggup!” kutepis tangannya. “Kalau mau bermimpi, paka saja kepala sendiri. Kepala saya mahal. Kamu tak akan sanggup menyewanya!”

Lalu dengan segera kutinggalkan dirinya.

* * *

Mimpiku yang berikutnya adalah ketika aku melihat serombongan manusia menyesaki jalan-jalan utama di kota, membawa poster-poster, dan berteriak-teriak dengan lantang. Ketika kupasang telinga lebar-lebar, tahulah aku bahwa mereka sedang melakukan unjuk rasa atas segala jenis penindasan dan kesenjangan yang merajalela di segenap penjuru negeri. Dengan lantang mereka meneriakkan sebuah pernyataan sikap: Hapuskan segala bentuk penindasan terhadap rakyat kecil! Tegakkan hak asasi manusia.

Aku bergidik menyaksikan adegan itu. Dan lebih bergidik lagi manakala aku memasuki episode mimpi berikutnya. Di sana, kutemukan lelaki yang lusuh dan compang-camping kemarin tengah duduk dengan lesu di pojok sebuah taman. Wajahnya tertunduk, dan ia menangis. Dengan penasaran kudekati ia. Kutanyakan apa yang telah terjadi atas dirinya.

Ia menatapku seperti anak kecil. Lewat sorot matanya yang kuyu, ia bercerita tentang kekecewaannya terhadap dunia. Ia merasa telah gagal mewujudkan mimpi-mimpinya. Setiap kali bermimpi, setiap kali itu pula sepasukan petugas penertiban mimpi menggusur mimpinya. Ia seperti manusia yang tak diharapkan kehadirannya. Ia kecewa. Ia ingin mengadu. Tapi di dalam mimpi, ia tak menemukan seorang pun anggota Komnas Hak Asasi Mimpi. Kini, untuk bermimpi pun ia tak diijinkan.

Aku tersenyum. Aku memahami keadaan lelaki itu. Aku mengerti kekecewaannya. Aku ingin mengucapkan sesuatu padanya. Tapi belum sempat membuka mulut, aku seketika terjaga dari mimpi. Dan kutemukan diriku berada di antara lautan manusia yang memenuhi jalan, membawa poster-poster, berteriak-teriak dengan lantang, meminta dihapuskan segala bentuk penggusuran terhadap mimpi.

Di belakang kami, lelaki kurus dan compang-camping itu berjalan mengikuti. Dan secara ajaib, tubuhnya bertambah menjadi dua, empat, enam belas, tiga puluh dua, seratus, seribu, dan seterusnya, hingga menjadi banyak sekali. Bahkan melebihi jumlah kami yang di depan.

Aku kini sadar. Aku tak akan dapat lagi menghindari lelaki itu ketika besok pagi berangkat ke kantor.

Semarang, 1998

Cerpen ini telah dimuat di Koran Kampus MANUNGGAL Universitas Diponegoro, Semarang, edisi IV Tahun XVI, Desember 1997 – Februari 1998

Leave a comment

Category: Pria Dewasa, Wanita Dewasa

No Comments

No comments yet.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Random Life Quotes

Plis Deh So Gaul So Keren community usually refers to a group of people who interact and share certain things as a group. Our articles focuses on human communities, in which intent, belief, resources, preferences, needs, risks and a number of other conditions may be present and common.